spot_img

Polemik Kesenian “Pendatang vs Pribumi” di Jabar Memanas: Tokoh Seni Tegas, Jangan Adu Domba Budaya Sunda

KARAWANG-TRIKUPDATE.CLIK | Polemik terkait penyebutan istilah “kesenian pendatang dan pribumi” dalam sebuah sambutan acara di Jawa Barat memicu reaksi serius dari kalangan seniman. Pernyataan yang semula dianggap sebagai guyonan itu justru dinilai menyinggung dan berpotensi memantik kesalahpahaman di tengah pelaku seni Sunda.

Isu ini mencuat setelah sejumlah seniman menilai bahwa diksi yang digunakan dalam sambutan tersebut tidak mencerminkan sensitivitas terhadap realitas kebudayaan di Jawa Barat yang tumbuh secara kolektif, inklusif, dan tanpa sekat. Narasi yang membedakan asal-usul kesenian dinilai berisiko menciptakan polarisasi yang tidak perlu di tengah ekosistem seni yang selama ini hidup dalam semangat kebersamaan.

Sorotan tajam datang dari tokoh seni Jawa Barat, H. Awandi Siroj Suwandi, yang secara terbuka menyampaikan kritik atas pernyataan tersebut. Ia menilai bahwa membenturkan istilah “pendatang” dan “pribumi” dalam konteks kesenian merupakan pendekatan yang keliru dan berpotensi merusak harmoni di kalangan seniman.

“Memang mungkin disampaikan dalam konteks bercanda. Tapi isi dari ucapan itu jelas ada yang tersinggung,” ujarnya, Minggu (3/5/2026).

Menurut Awandi, kesenian yang berkembang di Jawa Barat tidak bisa dipisahkan berdasarkan label asal-usul. Ia menegaskan bahwa seluruh ekspresi seni yang hidup di tanah Pasundan adalah bagian dari identitas bersama masyarakat Jawa Barat.

“Dalam seni Sunda di Jawa Barat, tidak ada istilah pribumi atau pendatang. Semuanya adalah milik urang Jawa Barat,” tegasnya.

Pernyataan tersebut menjadi penegasan bahwa budaya bukanlah entitas yang statis, melainkan dinamis dan terus berkembang melalui interaksi sosial. Namun, perkembangan itu tidak seharusnya dijadikan alasan untuk menciptakan dikotomi yang justru melemahkan fondasi kebudayaan itu sendiri.

Berita Lainnya  Rekonsiliasi Total Laskar Merah Putih: Ade Erfil Manurung Kembali ke Kubu Arsyad Cannu

Dalam konteks ini, kesenian seperti Jaipongan disebut sebagai salah satu simbol kuat budaya Sunda yang lahir dari akar tradisi lokal. Namun Awandi mengingatkan bahwa kekuatan Jaipongan tidak hanya terletak pada keasliannya, melainkan juga pada kemampuannya beradaptasi dan diterima lintas generasi.

Meski demikian, ia menekankan bahwa cara pandang terhadap kesenian harus tetap berlandaskan pada nilai persatuan, bukan perbedaan.

“Budaya itu berkembang. Tapi jangan sampai cara kita menyampaikannya justru menimbulkan kesan ada pemisahan,” katanya.

Ia juga mengingatkan bahwa narasi yang membenturkan kesenian berpotensi menjadi pemicu konflik horizontal di kalangan pelaku seni. Dalam situasi tertentu, pernyataan yang tidak tepat bisa dengan mudah disalahartikan dan berkembang menjadi polemik yang lebih luas.

“Kalau terus dibenturkan seperti itu, seolah-olah mau jadi provokasi. Padahal seni itu pemersatu, bukan pemecah,” ujarnya.

Lebih jauh, Awandi menyoroti dampak jangka panjang dari polemik semacam ini, terutama terhadap generasi muda. Ia menilai bahwa framing yang salah dalam memahami budaya dapat membentuk persepsi keliru di kalangan anak muda tentang batasan dalam berkesenian.

“Generasi muda bisa salah paham, seolah-olah ada batas dalam berkesenian di Jawa Barat. Ini yang harus kita jaga bersama,” ungkapnya.

Berita Lainnya  Gubernur Jabar Didesak Segera Berikan Sanksi Tegas Terhadap BJB Cabang Karawang Melalui Dirut

Menurutnya, kekuatan budaya Sunda selama ini justru terletak pada karakter terbuka yang mampu menyerap berbagai pengaruh tanpa kehilangan identitas. Namun, keterbukaan itu harus diimbangi dengan kebijaksanaan dalam menyampaikan narasi budaya di ruang publik.

Di tengah derasnya arus globalisasi, tantangan terhadap eksistensi kesenian lokal semakin nyata. Kesenian tradisional seperti Jaipongan tidak hanya dituntut untuk bertahan, tetapi juga beradaptasi tanpa kehilangan nilai-nilai dasarnya. Dalam situasi seperti ini, peran tokoh publik dan pelaku seni menjadi sangat krusial dalam menjaga arah diskursus budaya agar tetap sehat dan konstruktif.

Awandi juga menekankan bahwa kritik yang ia sampaikan bukan untuk memperkeruh suasana, melainkan sebagai bentuk kepedulian terhadap keberlangsungan seni dan budaya di Jawa Barat. Ia bahkan menyampaikan permohonan maaf apabila pernyataannya dianggap menyinggung pihak tertentu.

“Saya juga mohon maaf kepada seorang tokoh yang memberika sambutan dalam video. Ini hanya sekadar mengingatkan, atau mudzakaroh. Tidak ada niat untuk menjelekkan sesama seniman,” ucapnya.

Ia menegaskan pentingnya menjaga etika dalam berkomunikasi, terutama dalam menyikapi isu-isu sensitif seperti budaya. Menurutnya, perbedaan pandangan adalah hal yang wajar, namun harus diselesaikan melalui dialog yang sehat.

Sebagai langkah konkret, Awandi menyatakan keinginannya untuk menjalin komunikasi langsung melalui silaturahmi guna meredam polemik yang berkembang.

“Insya Allah, saya ingin bersilaturahmi, bertemu langsung. Semoga kita semua mendapat keberkahan,” katanya.

Sementara itu, informasi yang beredar menyebutkan bahwa persoalan ini telah mulai dikomunikasikan secara internal. Beberapa pihak disebut telah melakukan klarifikasi melalui jalur pribadi sebagai upaya untuk mencegah polemik semakin meluas di ruang publik.

Berita Lainnya  Ketua LMP Mada Jabar Geram! Sewa Jalan Desa Rp200 Juta di Karawang Diduga Akal-Akalan, APH Diminta Turun Tangan

Peristiwa ini menjadi pengingat penting bahwa sensitivitas dalam menyampaikan isu budaya tidak bisa diabaikan. Dalam masyarakat yang majemuk seperti Jawa Barat, setiap pernyataan yang berkaitan dengan identitas budaya memiliki dampak yang luas dan tidak bisa dianggap sepele.

Penggunaan istilah yang tidak tepat, terlebih dalam forum terbuka, berpotensi memicu tafsir beragam yang dapat berkembang menjadi konflik. Oleh karena itu, kehati-hatian dalam berbahasa menjadi bagian penting dalam menjaga harmoni sosial.

Di sisi lain, polemik ini juga membuka ruang refleksi bagi seluruh pihak, terutama pelaku seni dan penyelenggara acara, untuk lebih bijak dalam membangun narasi kebudayaan. Seni seharusnya menjadi ruang inklusif yang memperkuat persatuan, bukan sebaliknya.

Dalam konteks yang lebih luas, perdebatan ini menunjukkan bahwa kesenian bukan sekadar hiburan, melainkan bagian dari identitas kolektif yang harus dijaga bersama. Ketika narasi yang muncul justru memicu perpecahan, maka yang dipertaruhkan bukan hanya relasi antar seniman, tetapi juga keberlanjutan budaya itu sendiri.

Jawa Barat dengan segala kekayaan budayanya memiliki fondasi kuat untuk terus berkembang. Namun fondasi itu hanya akan bertahan jika seluruh elemen masyarakat mampu menjaga keseimbangan antara keterbukaan dan penghormatan terhadap identitas lokal. ***

Pewarta: RSK

Bagikan Artikel>>

Berita Lainnya

spot_img

NASIONAL

DAERAH

REKOMENDASI

- Advertisement -spot_img

HUKUM & KRIMINAL

BIROKRASI

INVESTIGASI

ARTIKEL POPULER