BANDUNG-TRIKUPDATE.CLIK | PELAYANAN kesehatan di UPTD Puskesmas Cetarip, Bojongloa Kaler, Kota Bandung, menjadi sorotan tajam. Seorang pasien pemegang kartu BPJS, Eka Widaningsih, dilaporkan jatuh pingsan setelah terlibat ketegangan terkait prosedur rujukan dan dugaan perilaku tidak etis dari oknum dokter dan petugas keamanan, Senin (12/1/2026).
Kejadian bermula saat Eka tiba di Puskesmas yang berlokasi di Jl. Cetarip Barat No. 3 tersebut untuk meminta rujukan rumah sakit akibat penyakit batu ginjal yang dideritanya. Namun, di bagian pendaftaran, petugas keamanan (security) memberikan informasi yang membingungkan.
Eka menyebutkan bahwa petugas menyatakan warga yang baru tinggal di Bandung dianggap sebagai “tamu” dan hanya memiliki jatah satu kali berobat atau meminta rujukan. Meski Eka bermaksud menggunakan jalur BPJS, petugas justru memasukkan kategorinya sebagai pasien umum.
“Jika pendaftaran saya masuk pasien umum, bagaimana saya bisa dapat surat rujukan ke rumah sakit yang dituju menggunakan BPJS?” protes Eka saat itu. Namun, petugas berdalih agar pasien menunggu keputusan dokter di ruang pemeriksaan.
Ketegangan memuncak saat Eka memasuki Ruang Klaster 3 Dewasa. Bukannya mendapat empati, Eka mengaku disambut dengan sikap dingin dan ketus oleh oknum dokter yang bertugas.
“Dokter tersebut tidak mempersilahkan saya duduk, malah memukul-mukul meja kerjanya dan menyuruh saya pindah kursi dengan nada tinggi,” ungkap Eka.
Situasi semakin memanas ketika dokter tersebut mempertanyakan status kepesertaan BPJS Eka dengan nada membentak. Puncaknya, oknum dokter tersebut diduga melempar KTP pasien ke meja kerja sambil memarahi pasien karena terdaftar sebagai pasien umum—padahal kesalahan input data terjadi di bagian pendaftaran sesuai arahan petugas keamanan.
“Bu Dokter harus punya etika. Saya ini sedang sakit luar biasa karena batu ginjal. Harusnya nada suara Anda halus, sesama perempuan harusnya mengerti,” ujar Eka sebelum meninggalkan ruangan dengan rasa kecewa.
Kondisi fisik yang lemah akibat penyakit kronis ditambah tekanan psikologis membuat Eka jatuh pingsan di area Puskesmas sesaat setelah keluar dari ruang pemeriksaan. Kejadian ini memicu kemarahan suami pasien yang saat itu sedang mempertanyakan prosedur kepada petugas keamanan.
Suami korban menegaskan bahwa persoalan ini bukan sekadar salah paham teknis, melainkan masalah adab dan etika profesi kedokteran.
“Ini bukan masalah uang atau salah paham, tapi soal ETIKA. Pasien ini perempuan, usianya lebih tua dari dokter tersebut. Di mana adab seorang dokter terhadap orang sakit?” tegas sang suami dengan nada berang.
Setelah insiden pingsannya pasien dan ketegangan yang hampir tak terkendali, pihak Puskesmas Cetarip akhirnya menyampaikan permohonan maaf dan mengklaim kejadian tersebut sebagai salah paham. Pihak manajemen akhirnya memberikan surat rujukan yang dibutuhkan setelah pasien sadar dari pingsannya.
Hingga berita ini diturunkan, warga berharap Dinas Kesehatan Kota Bandung dapat mengevaluasi standar pelayanan di Puskesmas Cetarip agar kejadian serupa tidak menimpa warga lain, terutama terkait diskriminasi terhadap pasien BPJS dan perilaku tenaga medis di lapangan. ***
Pewarta: RSK



