KARAWANG-TRIKUPDATE.CLIK | Sebuah langkah tak terduga diambil Ketua Umum Ikatan Wartawan Online Indonesia (IWOI), Dr. NR. Icang Rahardian, SH., MH. Di tengah memanasnya aksi solidaritas di Universitas Singaperbangsa Karawang (Unsika) pada Senin sore (23/2/2026), Icang secara mengejutkan memerintahkan seluruh barisan untuk menarik diri dan menghentikan orasi. Keputusan ini bukan tanda menyerah, melainkan sebuah reposisi taktik yang lebih besar.
Keputusan tersebut diambil bukan tanpa alasan. Icang menilai lokasi aksi di area kampus, tepatnya di depan rektorat, tidak strategis dan kurang memberikan daya tekan (pressure) yang signifikan terhadap tujuan gerakan.
“Kenapa saya tidak terlalu bersemangat? Karena ini tempat adik-adik kita menimba ilmu. Di kampus, aksi seperti ini dianggap biasa, tidak ada daya tekan yang besar,” tegas Icang di hadapan jajaran pengurus, jurnalis senior, dan tokoh media yang hadir.
Pernyataan Icang ini menarik perhatian karena menyeimbangkan antara semangat solidaritas dan penghormatan terhadap institusi pendidikan. Ia tak ingin perjuangan menjaga marwah jurnalis justru berbenturan dengan etika ruang akademik atau memicu polemik hukum yang tidak perlu.
“Kalau ini area umum, saya bela sampai mana pun. Tapi ini pusat akademik, tidak boleh diganggu aktivitas pendidikannya,” ujarnya lantang.
Meski aksi dihentikan di tengah jalan, Icang menegaskan bahwa ini bukanlah tanda kekalahan, melainkan langkah konsolidasi untuk gerakan yang lebih masif.
“Hari ini kita cukupkan sebagai pemanasan. Minggu depan kita konsolidasi untuk aksi yang lebih besar dan terorganisir,” serunya, yang disambut teriakan “Siap!” secara serempak oleh anggota IWOI.
Ia juga mengingatkan para jurnalis agar tetap profesional dan memahami batasan antara ruang publik dan privat, terutama di era digital yang rentan gesekan. Namun, ia memberi sinyal keras: “Organisasi mana pun, kalau marwah jurnalisnya diganggu, kita pasti bergerak!”
Dalam kesempatan yang sama, tokoh senior media Karawang, Bah Wandi Siroj, mengapresiasi kehadiran para wartawan sebagai bentuk kepedulian terhadap profesi. Ia menyerukan persatuan insan pers tanpa memperlebar konflik yang tidak produktif.
“Kita tidak boleh lemah, harus tetap semangat. Namun, tetap kedepankan hal-hal yang tidak memicu ketersinggungan yang lebih luas,” pesan Bah Wandi.
Sebagai salah satu pelopor media di Karawang, Bah Wandi mengingatkan bahwa jika ada rekan sejawat yang “terusik” (ka towel), maka solidaritas harus dibuktikan secara nyata. Ia pun menyatakan dukungan penuh jika IWOI kembali turun ke jalan dengan massa yang lebih besar pekan depan.
Aksi yang berakhir tertib ini menyisakan tanda tanya besar bagi publik dan insan pers di Karawang. Keputusan Icang untuk melakukan “reposisi” kini menjadi perbincangan hangat.
Apakah konsolidasi pekan depan akan menjadi momentum persatuan lintas organisasi pers, atau justru memicu babak baru dinamika antara jurnalis dan institusi? Satu yang pasti: api solidaritas IWOI belum padam, ia hanya sedang dihimpun kekuatannya.
Pewarta: Onedee



